SIAPA BILANG BERBAHASA INDONESIA ITU MUDAH ?

Penggunaan EYD serta berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sampai kini memang masih terkesan carut marut. Lihat saja misalnya istilah “telop” yang kerap muncul di layar televisi kita, selain banyak contoh lain yang menunjukkan betapa kerapnya media massa menggunakan ejaan yang salah kaprah. Kesalahan yang paling banyak serta mencolok, adalah pemakaian awalan “di” dan “ke”, serta menentukan kata mana yang harus digabung dan mana pula yang boleh dipisahkan. Sebab bagaimana pun, antara “dibalik” dan “membalik” memiliki makna yang berbeda. Penggunaan kata “keluar”, jika dimaksudkan sebagai lawan kata masuk, harus disambung (keluar). Tetapi jika untuk menunjukkan kata tempat, maka kata itu harus dipisah (ke luar) seperti halnya kata “ke rumah”.

Itulah kesalahkaprahan yang terlanjur lumrah. Jadi, adalah keliru jika Anda juga menuliskannya dengan “Itulah salah kaprah yang terlanjur ….”. Seperti juga terlentang yang seharusnya telentang. Dalam kisah sinetron remaja yang kini banyak membanjiri televisi kita, sering diungkapkan istilah salah “frustasi” padahal, yang benar adalah “frustrasi”. Hakikat pun banyak yang dikelirukan dengan hakekat, juga nasehat yang seharusnya nasihat.

Contoh “keliru” lain pun cukup banyak. Misalnya Al Qur`an (yang betul Alquran), sholat (mestinya shalat), mushola (yang betul mushala), bathin (cukup ditulis batin), birahi (semestinya berahi), ceritera (yang baik adalah cerita saja), do`a (tanpa koma di atas alias doa), himbau (harusnya imbau), ghaib (cukup dengan gaib), hadlir ataupun hadlirin yang betul hadir, sedang eksport atau import, harusnya pun impor saja.

Tidak cuma itu saja kekeliruan yang banyak atau sering kita jumpai dalam “bahasa tulis” kita sehari-hari. Bukan hanya di koran, majalah, surat menyurat, atau di kantor/sekolah saja, tetapi juga di layar televisi (sebagai media suara, gambar dan tulis sekaligus). Bahkan juga di papan-papan layanan umum. Lihat saja misalnya pada papan jam kerja dokter. Biasanya ditulis: Jam praktek 18.00 – 20.00. Penulisan itupun keliru, karena yang betul adalah praktik. Demikian juga papan di tempat-tempat penjualan obat, selalu ditulis dengan istilah apotik. Padahal yang betul justru apotek. Bukankah juru ramu obat itu disebut apoteker, bukannya apotiker? Papan pengumuman layanan publik berukuran besar di kantor GKN (Gedung Keuangan Negara) Semarang pun masih melakukan kekeliruan serupa. “Tamu GKN Bebas Parkir”, demikian bunyi pengumuman tersebut: Maksudnya, tentu adalah tamu GKN tidak dipungut ongkos parkir alias gratis. Padahal arti istilah “bebas parkir” itu sesungguhnya justru tidak boleh parkir.

Jadi, siapa bilang berbahasa Indonesia (yang baik dan benar) itu gampang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s